Bapak Ali Hadi adalah keturunan dari Bapak Turja, yang beralamat di Desa Pesarean Tegal - Jawa Tengah.
Semasa hidupnya ia suka berkelana dengan sepeda Realy nya , maklum saat itu belum ada sepeda motor, jadi kemana - mana menggunakan sepeda ontelnya.
Sepeda Ontel saat itu terbilang langka hanya dari kalangan tertentu yang memilikinya maklum Bapak Turja saat itu menjabat sebagai Bekel.
Dalam perjalannya hidupnya dia bertemu dengan seorang gadis desa dari Cikijing (wangkelang) dari keluarga Bapak Marka. Bapak Ali adalah orang yang tegar dalam hidup, selama hidup dia tidak selalu mengandalkan orang tuanya walaupun orang tuanya mampu dan cukup terpandang.
Bapak Ali Hadi sangat rajin dan ulet dalam membuat kerajinan dari berbahan kulit, dia olah menjadi Sandal, Sepatu, Tas dan bahkan Sela Kuda (Pelana Kuda) untuk tunggangan para pembesar pada jaman itu. Kalau ada pesanan ia tidak sungkan untuk menggarapnya walaupun jarak yang ditempuh untuk bahan baku dan yang memesan sangatlah jauh dari Tegal ke Cikijing / Bandung hanya dengan sepeda ontelnya dia kerjakan. Maklum ia sudah memiliki keturunan dari pernikahannya dengan Ibu Siti Aminah, yang telah dikaruniani 10 anak ( Mastur Mardiman, Abu Thoha, Murhinin (Alm.), Didin Murhidin, Masniyati (Niti Maryati), Tati (Almh.), Entis Sutisno (Alm.), Udin Mahmudin (Maman), Makmurgani (Dedi Makmur), Dudung Bunasir (dudung) ).
Namun hidupnya kurang beruntung dia bahkan tidak memiliki rumah, maklum saat itu banyak terjadi kekacauan banyak terjadi pembakaran rumah, sehingga hidup harus berpindah - pindah sehingga Bapak Ali tidak berkeinginan untuk memiliki sebuah rumah karena takut akan adanya penyitaan dan pembakaran.
Di Desa Cikijing Bapak Ali cukup terkenal dengan sebutan Bapak Ali Tukang Sol, karena keahliannya membuat Sepatu, Tas, Sela banyak dari dusun lain yang memiliki kuda ingin dibuatkan Selanya.
Namun seiring jaman dan keadaaan pesanan telah berkurang pemilik kuda dan pembuatan sepatu telah berkurang sehingga ia hanya memperbaiki kerajinan dari bahan Kulit yah hanya sesekali mungkin masih ada pesanan ia pun menggarapnya, tapi tidak seperti dulu karena keadaan yang sudah tidak muda lagi.
Namun bakat tertanam yang dimiliki Anak - anak dan cucunya mulai terlihat setelah sepeninggalannya.
Ia tutup usia pada umur 90 tahun di Tegal - Jawa Tengah, sedang Istrinya 45 tahun di Cikijing Majalengka - Jawa Barat,..
........Semoga Bapak Ali Hadi bin Turja dan Ibu Siti Aminah binti Marka di terima Amal Ibadahnya , diampuni dosa - dosanya dan disatukan hidupnya di Surga berserta Istri tercintanya walaupun tempat dikebumikannya berbeda tempat. Dan kelak digolongkan beserta Orang-orang beriman nanti di Yaumil Akhir.......aamiin... ya Rabbal 'alaamiin......
Sepeda Ontel saat itu terbilang langka hanya dari kalangan tertentu yang memilikinya maklum Bapak Turja saat itu menjabat sebagai Bekel.
Dalam perjalannya hidupnya dia bertemu dengan seorang gadis desa dari Cikijing (wangkelang) dari keluarga Bapak Marka. Bapak Ali adalah orang yang tegar dalam hidup, selama hidup dia tidak selalu mengandalkan orang tuanya walaupun orang tuanya mampu dan cukup terpandang.
Bapak Ali Hadi sangat rajin dan ulet dalam membuat kerajinan dari berbahan kulit, dia olah menjadi Sandal, Sepatu, Tas dan bahkan Sela Kuda (Pelana Kuda) untuk tunggangan para pembesar pada jaman itu. Kalau ada pesanan ia tidak sungkan untuk menggarapnya walaupun jarak yang ditempuh untuk bahan baku dan yang memesan sangatlah jauh dari Tegal ke Cikijing / Bandung hanya dengan sepeda ontelnya dia kerjakan. Maklum ia sudah memiliki keturunan dari pernikahannya dengan Ibu Siti Aminah, yang telah dikaruniani 10 anak ( Mastur Mardiman, Abu Thoha, Murhinin (Alm.), Didin Murhidin, Masniyati (Niti Maryati), Tati (Almh.), Entis Sutisno (Alm.), Udin Mahmudin (Maman), Makmurgani (Dedi Makmur), Dudung Bunasir (dudung) ).
Namun hidupnya kurang beruntung dia bahkan tidak memiliki rumah, maklum saat itu banyak terjadi kekacauan banyak terjadi pembakaran rumah, sehingga hidup harus berpindah - pindah sehingga Bapak Ali tidak berkeinginan untuk memiliki sebuah rumah karena takut akan adanya penyitaan dan pembakaran.
Di Desa Cikijing Bapak Ali cukup terkenal dengan sebutan Bapak Ali Tukang Sol, karena keahliannya membuat Sepatu, Tas, Sela banyak dari dusun lain yang memiliki kuda ingin dibuatkan Selanya.
Namun seiring jaman dan keadaaan pesanan telah berkurang pemilik kuda dan pembuatan sepatu telah berkurang sehingga ia hanya memperbaiki kerajinan dari bahan Kulit yah hanya sesekali mungkin masih ada pesanan ia pun menggarapnya, tapi tidak seperti dulu karena keadaan yang sudah tidak muda lagi.
Namun bakat tertanam yang dimiliki Anak - anak dan cucunya mulai terlihat setelah sepeninggalannya.
Ia tutup usia pada umur 90 tahun di Tegal - Jawa Tengah, sedang Istrinya 45 tahun di Cikijing Majalengka - Jawa Barat,..
........Semoga Bapak Ali Hadi bin Turja dan Ibu Siti Aminah binti Marka di terima Amal Ibadahnya , diampuni dosa - dosanya dan disatukan hidupnya di Surga berserta Istri tercintanya walaupun tempat dikebumikannya berbeda tempat. Dan kelak digolongkan beserta Orang-orang beriman nanti di Yaumil Akhir.......aamiin... ya Rabbal 'alaamiin......